Kamis, 25 Desember 2008

rantau pujakusuma

elama dua hari di Lampung, saya mengkonfirmasi maraknya organisasi etnis-primordial yang sebelumnya, informasinya saya dapat dari kawan-kawan Lampung. Maraknya organisasi primordial itu terjadi sejak reformasi politik 98. Banyak organisasi berbau primordial, etnis berdiri. Beberapa kawan risau dengan arus primordialisme ini.Proses integrasi antara pendatang dan warga asli tampak tidak terjadi?

Menurut beberapa sumber, gejala itu muncul dan berkembang sejak reformasi politik. Saya tidak tahu apakah gejala ini menunjukkan terjadinya proses atomisasi masyakat atau tidak, akan tetapi munculnya paguyuban-paguyuban berbau etnis itu, mengindikasikan bahwa ada yang belum selesai dalam proses integrasi dalam program transmigrasi yang digagas sejak presiden Sukarno sampai Presiden Suharto.


Menurut beberapa sumber, gejala itu muncul dan berkembang sejak reformasi politik. Saya tidak tahu apakah gejala ini menunjukkan terjadinya proses atomisasi masyakat atau tidak, akan tetapi munculnya paguyuban-paguyuban berbau etnis itu, mengindikasikan bahwa ada yang belum selesai dalam proses integrasi dalam program transmigrasi yang digagas sejak presiden Sukarno sampai Presiden Suharto.



Ada paguyuban PENGIYONGAN yang beranggotakan masyarakat Jawa Tengah yang menggunanakan kosa kata Inyong untuk mengebut ‘aku’. Anggotanya masyarakat transmigran yang berasal dari Banyumas, Kebumen, Tegal, Brebes, Pemalang, Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga. Sementara PUJAKUSUMA (Putra Jawa Kelahiran Sumatra) merupakan paguyuban masyarakat yang berasal dari Jogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada lagi paguyuban bernama PATRI (Paguyuban Anak Transmigrasi Lampung). Ketuanya Muhajir Utomo, mantan Rektor Universitas Lampung (UNILA). Masyarakat yang berasal dari Banten, paguyubannya bernama PAKU BANTEN, KBSS (Keluarga Besar Sulawesi Selatan) dan Batang Hari Sembilan merupakan organisasi masyarakat Palembang yang ada di Lampung. Sementara organisasi masyarakat pribumi,bernama Lampung Sae.

Pertanda apakah menjamurnya organisasi paguyuban semacam ini? Itu pertanyaan yang hendak saya diskusikan melalui postingan ini. Adakah diam-diam memang proses akulturasi, proses asimilasi dan proses integrasi antara masyarakat transmigran dengan masyarakat setempat telah gagal? Apakah saudara-saudara kita, yang sudah lama menghuni bumi Lampung, yang telah mencangkul, menanam pagi dan menghirup udara bersih di Lampung masih kental dan kuat ikatan dengan etnis asal usulnya? Apakah muncuatnya paguyuban etnis itu merupakan penegasan identitas atau sekedar ekspresi untuk bernostalgia dengan tanah leluhurnya.

Saya kemudian temui beberapa orang dari etnis Jawa, Makasar, Banten, Minang dan masyarakat pribumi Lampung. Kesimpulan sementara saya, tidak ikatan emosional dengan organisasi-organisasi primordial itu. Munculnya organisasi itu fenomena elit belaka. Sudah barang tentu, fenomena ini terkait dengan masalah politik di tingkat lokal.

Saya lalu coba menulusur data statistik. 70% warga Lampung beretnis Jawa. Kemudian secara politik, pendatang memang memiliki peran politik yang dominant. Jabatan-jabatan politik dan akses ekonomi dipegang oleh pendatang, pada moment reformasi ini baru orang asli Lampung menduduki jabatan tertinggi dalam politik sebagai Gubernur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar