Kamis, 25 Desember 2008

rantau pujakusuma

elama dua hari di Lampung, saya mengkonfirmasi maraknya organisasi etnis-primordial yang sebelumnya, informasinya saya dapat dari kawan-kawan Lampung. Maraknya organisasi primordial itu terjadi sejak reformasi politik 98. Banyak organisasi berbau primordial, etnis berdiri. Beberapa kawan risau dengan arus primordialisme ini.Proses integrasi antara pendatang dan warga asli tampak tidak terjadi?

Menurut beberapa sumber, gejala itu muncul dan berkembang sejak reformasi politik. Saya tidak tahu apakah gejala ini menunjukkan terjadinya proses atomisasi masyakat atau tidak, akan tetapi munculnya paguyuban-paguyuban berbau etnis itu, mengindikasikan bahwa ada yang belum selesai dalam proses integrasi dalam program transmigrasi yang digagas sejak presiden Sukarno sampai Presiden Suharto.


Menurut beberapa sumber, gejala itu muncul dan berkembang sejak reformasi politik. Saya tidak tahu apakah gejala ini menunjukkan terjadinya proses atomisasi masyakat atau tidak, akan tetapi munculnya paguyuban-paguyuban berbau etnis itu, mengindikasikan bahwa ada yang belum selesai dalam proses integrasi dalam program transmigrasi yang digagas sejak presiden Sukarno sampai Presiden Suharto.



Ada paguyuban PENGIYONGAN yang beranggotakan masyarakat Jawa Tengah yang menggunanakan kosa kata Inyong untuk mengebut ‘aku’. Anggotanya masyarakat transmigran yang berasal dari Banyumas, Kebumen, Tegal, Brebes, Pemalang, Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga. Sementara PUJAKUSUMA (Putra Jawa Kelahiran Sumatra) merupakan paguyuban masyarakat yang berasal dari Jogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada lagi paguyuban bernama PATRI (Paguyuban Anak Transmigrasi Lampung). Ketuanya Muhajir Utomo, mantan Rektor Universitas Lampung (UNILA). Masyarakat yang berasal dari Banten, paguyubannya bernama PAKU BANTEN, KBSS (Keluarga Besar Sulawesi Selatan) dan Batang Hari Sembilan merupakan organisasi masyarakat Palembang yang ada di Lampung. Sementara organisasi masyarakat pribumi,bernama Lampung Sae.

Pertanda apakah menjamurnya organisasi paguyuban semacam ini? Itu pertanyaan yang hendak saya diskusikan melalui postingan ini. Adakah diam-diam memang proses akulturasi, proses asimilasi dan proses integrasi antara masyarakat transmigran dengan masyarakat setempat telah gagal? Apakah saudara-saudara kita, yang sudah lama menghuni bumi Lampung, yang telah mencangkul, menanam pagi dan menghirup udara bersih di Lampung masih kental dan kuat ikatan dengan etnis asal usulnya? Apakah muncuatnya paguyuban etnis itu merupakan penegasan identitas atau sekedar ekspresi untuk bernostalgia dengan tanah leluhurnya.

Saya kemudian temui beberapa orang dari etnis Jawa, Makasar, Banten, Minang dan masyarakat pribumi Lampung. Kesimpulan sementara saya, tidak ikatan emosional dengan organisasi-organisasi primordial itu. Munculnya organisasi itu fenomena elit belaka. Sudah barang tentu, fenomena ini terkait dengan masalah politik di tingkat lokal.

Saya lalu coba menulusur data statistik. 70% warga Lampung beretnis Jawa. Kemudian secara politik, pendatang memang memiliki peran politik yang dominant. Jabatan-jabatan politik dan akses ekonomi dipegang oleh pendatang, pada moment reformasi ini baru orang asli Lampung menduduki jabatan tertinggi dalam politik sebagai Gubernur

Rabu, 24 Desember 2008

VISI DAN MISI PUJAKUSUMA

APA SIH VISI DAN MISI PUJAKUSUMA

Pengurus Pujakusuma

SUSUNAN PENGURUS PUJAKUSUMA BATAM

1. PENDIRI :
2. KETUA :
3. SEKRETARIS :
4. BENDAHARA :

DLL BILA DIPERLUKAN.....

reuni anggota pujakusuma

buat pendiri pujakusuma didunia nyata.............coba direncanakan untuk pertemuan supaya ada ikatan yang lebih dekat disini saya hanya bisa bermain didunia maya..................tapi saya selalu mendukung kegiatan ini....saking senangnya saya membuat blog ini....




salam buat pengurus pujakusuma

dari saya

pojok pujakusuma jambi

1. Sebutan Diri
Kelompok masyarakat terasing yang bermukim di sekitar pegunungan duabelas Jambi menyebut diri Orang Rimba yang dibedakan dengan masyarakat luar, yang disebut orang terang. Anak Dalam juga merupakan sebutan diri yang mereka senangi, dan mereka sangat marah jika disebut orang Kubu, sebutan itu dianggap merendahkan diri mereka. Dalam percakapan antar warga masyarakat jambi tentang orang Kubu tercermin dari ungkapan seseorang yang menunjukan segi kedudukan dan kebodohan, misalnya membuang sampah sembarangan diumpat “Kubu kau….!”. sebutan lain yang disenangi orang rimba ialah “sanak”, yaitu cara memanggil seseorang yang belum kenal dan jarang bertemu. Bila sudah sering bertemu maka panggilan akrab ialah “nco” yang berarti kawan.(Soetomo, 1995:58)
Senada dengan diatas Butet Manurung juga mengemukakan bahwa, kubu berarti kotor, primitif, kafir, atau arti lain yang senada. Kata ini sebenarnya berasal dari Orang Rimba yang justru dipakai oleh orang luar untuk menunjukan identitas Orang Rimba yang “primitif”. Di kemudian hari, penyebutan ini ternyata mempengaruhi cara pandang dan perilaku Orang Rimba bila berhadapan dengan orang luar. Mereka menjadi merasa rendah diri dan hilang kepercayaan terhadap dirinya sendiri. (Manurung, 2007:41)
2. Asal Usul Suku Anak Dalam (Orang Rimba)
Tentang asal usul Suku Anak Dalam (Muchlas, 1975) menyebutkan bermacam cerita/hikayat dari penuturan lisan yakni: Cerita Buah Gelumpang, Tambo Anak Dalam (Minangkabau), Cerita Orang Kayu Hitam, Cerita Seri Sumatera Tengah, Cerita Perang Jambi dengan Belanda, Cerita Tambo Sriwijaya, Cerita Turunan Ulu Besar dan Bayat, Cerita tentang Orang Kubu. Dari cerita/hikayat tersebut Muchlas menarik kesimpulan bahwa Anak Dalam berasal dari tiga keturunan:
1. Keturunan dari Sumatera Selatan, umumnya tinggal di wilayah Kabupaten Batanghari.
2. Keturunan dari Minangkabau umumnya di Kabupaten Bungo Tebo sebagian Mersan.
3. Keturunan dari Jambi Asli ialah Kubu Air Hitam Kabupaten Sarolangun Bangko.
Versi lain asal usul menurut Orang Rimba sendiri dalam Disertasi Muntholib Soetomo yaitu, seorang yang gagah berani bernama Bujang Perantau. Pada suatu hari memperoleh buah gelumpang dan dibawa kerumahnya. Suatu malam ia bermimpi agar buah gelumpang itu dibungkus dengan kain putih yang nanti akan terjadi keajaiban, yang berubah menjadi seorang putri yang cantik. Putri itu mengajak kawin Bujang Perantau, namun Bujang Perantau berkata bahwa tidak ada orang yang mengawinkan mereka. Putri tersebut berkata : “Potonglah sebatang kayu bayur dan kupas kulitnya kemudian lintangkan di sungai, kamu berjalan dari pakal saya dari ujung. Kalau kiata dapat beradu kening di atas kayu tersebut berarti kita sudah kawin”. Permintaan itu dipenuhi oleh Bujang Perantau dan terpenuhi segala syaratnya, kemudian keduanya menjadi suami isteri. Dari hasil perkawinan itu lahirlah empat orang anak, yaitu Bujang Malapangi, Dewo Tunggal, Putri Gading, Dan Putri Selaro Pinang Masak. Bujang Malapangi, anak tertua yang bertindak sebagai pangkal waris dan Putri Selaro Pinang masak sebagai anak bungsu atau disebut juga ujung waris keluar dari hutan untuk pergi membuat kampung dan masuk islam; ke duanya menjadi orang Terang. Putri Selaras Pinang Masak menetap di Seregam Tembesi, sedangkan Bujang Malapangi membuat kampung pertama di sekitar sungai Makekal pertama di Kembang Bungo, ke dua Empang Tilan, ke tiga di Cempedak Emas, ke empat di Perumah Buruk, ke lima di Limau Sundai, dan kampong terakhir di Tanah Garo sekarang. Hal inilah membuat orang Rimba menjadikan tokoh keturunan Bujang Malapangi sebagai Jenang (orang yang dapat diterima oleh orang Rimba dan juga oleh orang lain, selain orang Rimba yang berfungsi sebagai perantara bagi orang Rimbo yang akan berhubungan dengan orang lain atau orang lain yang akan berhubungan dengan orang Rimba). Jenang yang paling berpengaruh dijadikan rajo (raja), dan segala urusan antara orang Rimba dengan orang luar harus melibatkan Jenang mereka dan rajo-nya.
Secara mitologi, mereka (Suku Anak-Dalam) masih menganggap satu keturunan dengan Puyang Lebar Telapak yang berasal dari Desa Cambai, Muara Enim. Menurut pengingatan mereka, yang didapat dari penuturan kakek-neneknya, bahwa sebelum mereka bertempat tinggal di wilayah Sako Suban, mereka tinggal di dusun Belani, wilayah Muara Rupit. Mereka hijrah karena terdesak waktu perang ketika zaman kesultanan Palembang dan ketika masa penjajahan kolonial Belanda. Secara tepat waktu kapan mereka hijrah tidak diketahui lagi, yang mereka (Suku Anak Dalam) ingat berdasarkan penuturan, hanya masa kesultanan Palembang dan masa penjajahan Belanda. Dari Dusun Belani, Suku Anak-Dalam mundur lebih masuk ke hutan dan sampai di wilayah Sako Suban. Di wilayah Sako Suban ini, mereka bermukim di wilayah daratan diantara sungai Sako Suban dan sungai Sialang, keduanya sebagai anak dari sungai Batanghari Leko. Wilayah pemukiman yang mereka tempati disebut dengan Tunggul Mangris. (Dirjen Bina Masyarakat Terasing Depsos RI, 1998 :55-56)
Versi Departemen sosial dalam data dan informasi Depsos RI (1990) menyebutkan asal usul Suku Anak-Dalam yakni : sejak Tasun 1624 Kesultanan Palembang dan Kerajaan Jambi, yang sebenarnya masih satu rumpun, memang terus menerus bersitegang dan pertempuran di Air Hitam akhirnya pecah pada tahun 1629. Versi ini menunjukkan mengapa saat ini ada dua kelompok masyarakat anak-dalam dengan bahasa, bentuk fisik, tempat tinggal dan adat istiadat yang berbeda. Mereka yang menempati belantara Musi Rawas (Sumatera Selatan) berbahasa Melayu, berkulit kuning dengan postur tubuh ras Mongoloid seperti orang Palembang sekarang. Mereka ini keturunan pasukan palembang. Kelompok lainnya tinggal di kawasan hutan Jambi berkulit sawo matang, rambut ikal, mata menjorok ke dalam. Mereka tergolong ras wedoid (campuran wedda dan negrito). Konon mereka tentara bayaran Kerajaan Jambi dari negeri lain.
Versi lain adalah cerita tentang perang jambi dengan belanda yang berakhir pada tahun 1904, pihak pasukan Jambi yang dibela oleh Anak-Dalam yang dipimpin oleh Raden Perang. Raden Perang adalah cucu Raden Nagasari. Dalam perang gerilya maka terkenallah Anak-Dalam dengan sebutan Orang Kubu artinya orang yang tak mau menyerah pada penjajah Belanda yang membawa penyakit jauh senjata api. Orang Belanda disebut Orang Kayo Putih sebagai lawan Raja Jambi (Orang Kayo Hitam) (Muchlas,1995).
Lebih lanjut tentang asal-usul “Suku Anak-Dalam” ini juga dimuat pada seri profil masyarakat terasing (BMT, Depsos, 1988) yakni sebagai berikut :
Pada zaman dahulu kala terjadi peperangan antara Kerajaan Jambi yang dipimpin oleh Puti Selaras Pinang Masak dan kerajaan Tanjung Jabung dipimpin oleh Rangkayo Hitam. Peperangan ini semakin berkobar, akhirnya didengar oleh Raja Pagar Ruyung, yaitu ayah dari Puti Selaras Pinang Masak. Raja Pagar Ruyung memerintahkan agar dapat menaklukkan Kerajaan Rangkayo Hitam, mereka menyanggupi dan bersumpah/berjanji tidak akan kembali sebelum menang. Jarak antara kerajaan Pagar Ruyung dengan Kerajaan Jambi sangat jauh, harus melalui hutan rimba belantara dengan berjalan kaki. Perjalanan mereka sudah berhari-hari lamanya, kondisi mereka sudah mulai menurun sedangkan persediaan bahan makanan sudah habis, mereka sudah kebingungan. Perjalanan yang ditempuh masih jauh, untuk kembali ke Kerajaan Pagar Ruyung mereka merasa malu. Sehingga mereka bermusyawarah untuk mempertahankan diri hidup didalam rimba.
Untuk menghindari rasa malu mereka mencari tempat-tempat yang sepi dan jauh ke dalam rimba raya. Keadaan kehidupan mereka makin lama semakin terpencil, keturunan mereka menamakan dirinya Suku Anak-Dalam.
Tentang Suku Anak-Dalam ini (Orang Rimba) Ruliyanto, wartawan Tempo (Tempo, April 2002:70) menulis bahwa : sejumlah artikel menyebut orang rimba merupakan kelompok melayu tua dari rumpun Melanesia. Mereka disamakan dengan kelompok melayu tua lainnya di Indonesia seperti orang Dayak, Sakai, Mentawai, Nias, Toraja, Sasak, Papua, dan Batak pedalaman. Kelompok melayu tua merupakan eksodus gelombang pertama dari Yunan (dekat lembah sungai Yang Tze di Cina Selatan) yang masuk ke Indonesia Selatan tahun 2000 sebelum masehi. Mereka kemudian tersingkir dan lari ke hutan ketika kelompok Melayu Muda datang dengan mengusung peradaban yang lebih tinggi antara tahun 2000 dan 3000 sebelum masehi.
Menurut Van Dongen (1906) dalam Tempo (2002:71) menyebutkan bahwa Orang Rimba sebagai orang primitif yang taraf kemampuannya masih sangat rendah dan tak beragama. Dalam hubungannya dengan dunia luar kota Orang Rimba mempraktekan silent trade mereka melakukan transaksi dengan bersembunyi di dalam hutan dan melakukan barter, mereka meletakkannya di pinggir hutan, kemudian orang melayu akan mengambil dan menukarnya. Gongongan anjing merupakan tanda barang telah ditukar.
Senada dengan itu Bernard Hagen (1908) dalam Tempo (2002:71) (die orang kubu auf Sumatera) menyatakan Orang Rimba sebagai orang pra melayu yang merupakan penduduk asli Sumatera demikian pula Paul Bescrta mengatakan bahwa orang Rimba semua dengan proto melayu (melayu tua) yang ada di Semenanjung Melayu yang terdesak oleh kedatangan melayu muda.
Daftar Pustaka :
Depsos RI. 1990, Data dan Informasi Pemberdayaan Masyarakat Terasing. Jakarta
________. 1998, Masyarakat Terasing Suku Anak Dalam dan Dusun Solea Dan Melinani, Direktorat Bina Masyarakat Terasing, Jakarta.
Dongen, C.J. Van. Tanpa Tahun, Orang Kubu (Suku Kubu), Arsip Museum Provinsi Jambi, Jambi.
Manurung, Butet. 2007, Sokola Rimba, Insist Press, Yogyakarta
Muchlas, Munawir. 1975, Sedikit Tentang Kehidupan Suku Anak Dalam ( Orang Kubu) di Provinsi Jambi, Kanwil Depsos Provinsi Jambi, Jambi
Ruliyanto, Agung. 2002, Majalah Tempo 18 April 2002, Jakarta
Soetomo, Muntholib, 1995, Orang Rimbo : Kajian Struktural-Fungsional Masyarakat Terasing Di Makekal Provinsi Jambi, Universitas Padjajaran, Bandung.

pojok pujakusuma medan

1. Asal Usul Medan
Orang pertama yang membuka Kampung Medan adalah Guru Patimpus , sekitar tahun 1590an. Guru Patimpus, suku Karo beragama Islam beberapa buku menyebutkan Guru Patimpus belajar agama Islam pada Imam Shaddik bin Abdullah, pada masa 1550/1643.. Sejarah mencatat agama Islam masuk ke Sumatera Timur dalam semester kedua dari abad ke 16.
Perkampungan yang dibuka oleh Guru Patimpus, posisinya terletak pada pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura (disekitar kawasan jalan Putri Hijau sekarang), yang diberi nama Medan Putri. Karena kawasan tersebut merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang cukup ramai, maka Medan Putri yang merupakan cikal bakal kota Medan, dengan cepat berkembang menjadi pelabuhan transit yang sangat penting.
Menurut Buku “Riwayat Hamparan Perak” karangan Tengku Lukman Sinar, SH terbitan tahun 1971, Guru Patimpus merupakan nenek moyang dari Datuk Hamparan Perak (Dua Belas Kota) dan Datuk Sukapiring, yaitu dua dari empat kepala suku Kesultanan Deli.
Dua dasa warsa setelah berdirinya kampung Medan, Sultan Iskandar Muda yang berkuasa di Aceh mengirimkan panglimanya yang bernama Gocah Pahlawan untuk menjadi pemimpin yang mewakili kerajaan Aceh di Tanah Deli. Gocah Pahlawan berhasil memperluas daerah kekuasaannya hingga meliputi daerah sekitar Kecamatan Percut Sei Tuan dan Kecamatan Deli Serdang sekarang ini. Ditambah lagi pada tahun 1632 Gocah pahlawan menikahi putri Datuk Sunggal. Setelah perkawinan ini, raja-raja di Kampung Medan menyerah pada Gocah Pahlawan.
1653 Gocah Pahlawan wafat dan digantikan oleh putranya Tuanku Panglima Perunggit, yang kemudian memproklamirkan kemerdekaan kemerdekaan Kesultanan Deli dari Kesultanan Aceh (1669), dengan ibukota di Labuhan (kira-kira 20 km dari kota Medan). Jhon Anderson seorang Inggris yang melakukan kunjungan ke Kampung Medan tahun 1823 dan mencatat dalam bukunya Mission to the East Coast of Sumatera bahwa penduduk Kampung Medan pada waktu itu masih berjumlah 200 orang tapi dia hanya melihat penduduk yang berdiam dipertemuan antara dua sungai tersebut.
2. Masa Kejayaan Tanah Deli
Tahun 1861, beberapa orang Fujian dari sebelah Utara China mendarat di Labuhan untuk mengadu nasib di Tanah Deli. Selanjutnya pada tahun 1863, Sultan Deli memberikan kepada Nienhuys Van der Falk dan Elliot dari Firma Van Keeuwen en Mainz & Co, tanah seluas 4.000 bahu (1 bahu = 0,74 ha) secara erfpacht 20 tahun di Tanjung Sepassi, dekat Labuhan. Contoh tembakau deli. Maret 1864, contoh hasil panen dikirim ke Rotterdam di Belanda, untuk diuji kualitasnya. Ternyata daun tembakau tersebut sangat baik dan berkualitas tinggi untuk pembungkus cerutu. Pesatnya perkembangan “Medan Putri” tidak lepas dari pengaruh perkebunan tembakau yang sangat terkenal dengan nama Tembakau Delinya tersebut.
Bersamaan dengan pesatnya pembukaan lahan baru untuk perkebunan tembakau. 1890-1920 adalah era dimana gelombang kuli untuk bekerja di perkebunan tembakau swasta milik Belanda datang secara besar-besaran. Para kuli yang disebut kuli kontrak adalah kebanyakan dari Jawa. Kebanyakan dari mereka tertipu oleh bujukan para agen pencari kerja yang mengatakan kepada mereka bahwa Deli adalah tempat dimana pohon yang berdaun uang (metafor dari tembakau). Dijanjikan akan kaya raya namun kenyataannya mereka dijadikan budak. Selama puluhan tahun mereka menjalani kehidupan yang sangat tidak manusiawi, upah yang sangat rendah, perlakuan kasar majikan.
Van den Brand adalah seorang advokat yang tinggal di Medan dan melihat secara langsung derita kuli-kuli kontrak di perkebunan tembakau di Deli, ia dengan penuh keberanian menentang sengit penale sanciate (aturan hukum bagi kuli-kuli yang bekerja di perkebunan) yang dibuat oleh pemerintahan kolonial Belanda di wilayah tersebut. Brosur Millioenen uit Deli (Berjuta-juta dari Deli) setebal 71 halaman diterbitkan pada tahun 1902 di Belanda. Brosur yang memprotes diberlakukannya penale sanciate dan juga mengurai derita dan skandal perbudakan yang dialami ribuan kuli kontrak asal Jawa yang berkerja di perkebunan tembakau milik swasta Belanda di Deli. Tulisan ini kontan menggegerkan dunia internasional. Pemerintah Belanda mendapat tekanan untuk membuktikan kebenaran tulisan itu. Karena jasa-jasanya surat kabar “Soeara Batak” yang terbit di Tapanuli menyebut Van den Brand sebagai “Bapak Kuli Kontrak”. Sayangnya nama Van den Brand tampaknya terlupakan oleh masyarakat Indonesia
3. Zaman Penjajahan Belanda
Walaupun Belanda memiliki beberapa perkebunan besar di Tanah deli, tetapi mereka belum sepenuhnya menguasai Deli. Pendudukan Belanda terhadap Tanah Deli, harus melalui perjuangan yang berat, kesempatan untuk menaklukkan Tanah Deli baru terbuka saat Sultan Ismail yang berkuasa di Riau, secara tiba-tiba diserang oleh gerombolan Inggris yang dipimpin Adam Wilson. Merasa terdesak, Sultan Ismail meminta bantuan kepada Belanda. Pada tanggal 1 Februari 1858 Belanda mendesak Sultan Ismail untuk menandatangani perjanjian agar daerah taklukan Kerajaan Siak Indrapura yang meliputi Deli, Langkat, Serdang di Sumatera Timur masuk dalam kekuasaan Belanda.
Pada tahun yang sama 1858, Elisa Netscher diangkat menjadi Residen Wilayah Riau dan sejak itu pula ia mengangkat dirinya menjadi pembela Sultan Ismail, tujuannya tentu dengan duduknya dia sebagai pembela Sultan secara politis akan mudah bagi Netscher untuk menguasai daerah taklukan kerajaan Siak yakni Deli yang didalamnya termasuk Kampung Medan Putri.
Perkembangan pesat Medan Putri sebagai pusat perdagangan mendorongnya menjadi pusat pemerintahan. 1879, Ibukota Residen Deli dipindahkan dari Labuhan ke Medan. 1Maret 1887, Ibukota Residen Deli Deli dipindahkan dari Labuhan ke Medan. Istana Kesultanan Deli yang berada di kampung Bahari (Labuhan) juga pndah ke Medan dengan selesainya pembangunan Istana Maimoon pada 18 Mei 1891. Dengan demikian Ibukota Deli telah resmi pindah ke Medan.
Tjong A Fie, salah satu pendiri Kota Medan , datang dari Canton di 1875, mengadu peruntungannya di Tanah Deli bersama abangnya Tjong Yong Hian. Dia membangun hubungan baik dengan Sultan Deli dan kaum Belanda pemilik perkebunan, sehingga kemudia dia ditunjuk sebagai “Majoor der Chineezen” atau Pemimpin komunitas China. Rumah Tjong A Fie di Kesawan rampung sekitar tahun 1900an, sebuah bangunan dengan perpaduan arsitektur, China-Eropa dan Art Deco. Tahun 1913 dia menyumbangkan jam kota untuk gedung Balai Kota.
Pada tahun 1915 Residensi Sumatera Timur ditingkatkan kedudukannya menjadi Gubernemen. Pada tahun 1918 Kota Medan resmi menjadi Gemeente (Kota Praja) dengan Walikota Baron Daniel Mac Kay. Berdasarkan “Acte van Schenking” (Akte Hibah) Nomor 97 Notaris J.M. de-Hondt Junior, tanggal 30 Nopember 1918, Sultan Deli menyerahkan tanah kota Medan kepada Gemeente Medan, sehingga resmi menjadi wilayah di bawah kekuasaan langsung Hindia Belanda. Pada masa awal Kotapraja ini, Medan masih terdiri dari 4 kampung, yaitu Kampung Kesawan, Kampung Sungai Rengas, Kampung Petisah Hulu dan Kampung Petisah Hilir.
Sejak itu Kota Medan berkembang semakin pesat. Berbagai fasilitas dibangun. Beberapa diantaranya adalah Kantor Stasiun Percobaan AVROS di Kampung Baru (1919), sekarang RISPA, hubungan Kereta Api Pangkalan Brandan - Besitang (1919), Konsulat Amerika (1919), Sekolah Guru Indonesia di Jl. H.M. Yamin sekarang (1923), Mingguan Soematra (1924), Perkumpulan Renang Medan (1924), Pusat Pasar, R.S. Elizabeth, Klinik Sakit Mata dan Lapangan Olah Raga Kebun Bunga (1929).
Pada tahun 1918 penduduk Medan tercatat sebanyak 43.826 jiwa yang terdiri dari Eropa 409 orang, Indonesia 35.009 orang, Cina 8.269 orang dan Timur Asing lainnya 139 orang. Secara umum, morphologi kota Medan pada saat itu dapat dibagi menjadi tiga bagian : Distrik Colonial yang terdiri dari bangunan-bangunan penting dan infrastruktur seperti Area Bisnis di daerah Kesawan, Area militer di sekitar sungai Deli dan sungai Babura, Pemukiman elit di Polonia, Pusat Pasar, Gereja. Rumah sakit, Sekolah, Stasiun Kereta Api dan Bandar Udara. Area Etnis China yang berlokasi di sebelah timur sungai Deli, berpotongan dengan Area kolonial Belanda di Kesawan. Area Pribumi, yang berpusat di Istana Kesultanan dan Mesjid di sebelah selatan kota setelah distrik Kesawan dan Area etnis China.
4. Zaman Pendudukan Jepang
Keadaan berubah ketika pendudukan Belanda mulai berakhir sekitar tahun 1942, saat pasukan Jepang mengambil alih kekuasaan. Dengan masuknya Jepang di Kota Medan keadaan segera berubah terutama pemerintahan sipilnya yang zaman Belanda disebut “Gemeente Bestuur” oleh Jepang dirobah menjadi “Medan Sico” (Pemerintahan Kotapraja). Yang menjabat pemerintahan sipil di tingkat Kotapraja Kota Medan ketika itu hingga berakhirnya kekuasaan Jepang bernama Hoyasakhi. Untuk tingkat keresidenan di Sumatera Timur karena masyarakatnya heterogen disebut Syucokan yang ketika itu dijabat oleh T.Nakashima, pembantu Residen disebut dengan Gunseibu.
Semboyan saudara Tua hanyalah semboyan saja, kenyataannya rakyat sangat menderita dengan diberlakukannya pertanian kolektif dan kerja paksa.Para Pemuda direkrut untuk bergabung dalam organisasi bentukan Jepang seperti Heiho, Romusha, Gyu Gun dan Talapeta.
5. Mempertahankan Kemerdekaan
Ketika Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945, beritanya sampai ke Medan walaupun agak tersendat-sendat karena keterbatasan sarana komunikasi. Dan Medan mulai berusaha membangun daerahnya. Namun 1 September 1945 sekelompok kecil tentara sekutu yang dipimpin Let I Pelaut Brondgeest tiba di Medan dan berkantor di Hotel De Boer (sekaang hotel Dharma Deli). Tugasnya adalah mempersiapkan pengambilalihan kekuasaan dari Jepang. Pada ketika itu pula tentara Belanda yang dipimpin oleh Westerling didampingi perwira penghubung sekutu bernama Mayor Yacobs dan Letnan Brondgeest berhasil membentuk kepolisian Belanda untuk kawasan Sumatera Timur yang anggotanya diambil dari eks KNIL dan Polisi Jepang yang pro Belanda.
Tentu saja niat mereka ditentang oleh para pemuda. Kemerdekaan adalah harga mutlak yang tidak bisa ditawar lagi, pertempuran demi pertempuran mempertahankan kemerdekaan pun terjadi, salah satu nya adalah Pertempuran Medan Area. Bahkan Medan sempat menjadi ibukota sementara negara Indonesia yang baru merdeka.
6. Pertumbuhan Medan
Medan terus berbenah, pembangunan fisik terus berlangsung hingga kini. Pertumbuhan yang pesat mendorong Medan berkembang menjadi ibukota Provinsi Sumatera Utara .

pojok pujakusuma riau

kerajaan melayu
Sejarah Karajaan Bentan, perlu digali dan dilestarikan diantaranya dibuat dalam bentuk cerita rakyat. Saat ini cerita keberadaan Kerajaan Bentan masih banyak terdengar, baik dari orang cerdik pandai maupun tetua masyarakat Bentan itu sendiri.
Cerita-cerita menggambarkan berbagai versi atau sudut pandang tentang sejarah Kerajaan Bentan ini, baik dari segi asal usul mapun ketokohan, dan alur sejarah yang pernah membentang di daerah ini. Semua itu merupakan kekayaan sejarah dan budaya yang tidak ternilai dan dapat dijadikan modal mengangkat eksistensi Kerajaan Bentan yang diyakini cukup jaya pada masanya itu.
Melihat masalah inilah Komunitas Penulis Kreatif Kepuluan Riau yanhg tergabung dalam Gurindam Pena, bermaksud mengali akar sejarah dengan cara melakukannya dari cerita rakyat. ”Kita melakukan ini, sebagai usaha untuk mengangkat harkat dan martabat para pewaris Kerajaan Bentan yang kini masih ada,” kata Drs Marwizal Effendi, kemarin.
Pihak Gurindam Pena akan melakukan berbagai metoda seperti survey ke lapangan, wawancara, dan serta mengkaji literatur agar fakta sejarah yang akan ditulis dalam bentuk cerita rakyat itu memiliki akuarasi yang memadai. Pertimbangan penulisan ini akan dibentuk dalam cerita rakyat, untuk memberikan luang yang lebih luas kepada para sejarawan yang berminat dikemudian hari untuk melakukan penelitian atau penuliskan sejarah Kerajaan Bentan.
Jika Gerindam Pena langsung menulis dalam bentuk sejarah yang sesungguhnya dikhawatirkan menimbulkan perdebatan yang tajam dikemudian hari, mengingat komunitas yang terhimpun dalam Gurindam Pena, bukanlah pada sejarawan. Budayawan, kawakan Kepri yang kini bermukim di Pekanbaru Riau, Raja Hasan Yusuf, sebelumnya kepada Batam Pos, mengatakan sejarah yang ditulis dalam bentuk cerita rakyat itu terkadang lebih akurat atau lebih sahih kebenarannya.
Karena cerita rakyat yang juga dikenal sebagai
itu lebih patut dipercaya. Karena legenda adalah pendapat umum akan pendapat semua orang yang terhimpun dalam suatu komunitas yang mempunyai legenda itu. ‘’Sedangkan kebenaran sejarah hanya pendapatan segelintir orang atau kebenaran menurut sipenulis sejarah itu sendiri,” kata Hasan Yunus. (aji)

Makam Engku Putri
Makam Engku Putri Permaisuri Sultan Mahmud ini terletak di pulau Penyengat Indra Sakti. Pulau Penyengat adalah milik Engku Putri, karena pulau ini dihadiahkan suaminya Sultan Mahmud Syah sebagai mas kawinnya sekitar tahun 1801-1802. Selain itu Engku Putri adalah pemegang regalia kerajaan Riau.
Bangunan makam terbuat dari beton, dikelilingi oleh pagar tembok pada tempat yang ketinggian. Dahulu atap bangunan makam dibuat bertingkat-tingkat dengan hiasan yang indah.
Di kompleks ini terdapat pula makam tokoh-tokoh terkemuka kerajaan Riau, seperti makam Raja Haji Abdullah (Marhum Mursyid)
Yang Dipertuan Muda Riau IX, makam raja Ali Haji, pujangga Riau yang terkenal “Gurindam Dua Belas”, makam Raja Haji Abdullah, makam Mahkamah Syariah kerajaan Riau-Lingga, makam Tengku Aisyah Putri - Yang Dipertuan Muda Riau IX, dan kerabat-kerabat Engku Putri yang lain.
Sejarah Riau mencatat bahwa Engku Putri (Raja Hamidah) adalah putri Raja Syahid Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang - Yang Dipertuan Muda Riau IV - yang termashur sebagai pahlawan Riau dalam menentang penjajahan Belanda. Sebagai putri tokoh ternama, Engku Putri besar peranannya dalam pemerintahan kerajaan Riau, sebab selain memegang regalia (alat-alat kebesaran kerajaan) beliau adalah permaisuri Sultan Mahmud, dan tangan kanan dari Raja Jaafar - Yang Dipertuan Muda Riau VI.
Sebagai pemegang regalia kerajaan, beliau sangatlah menentukan dalam penabalan sultan, karena penabalan itu haruslah dengan regalia kerajaan. Engku putri pernah pula melakukan perjalanan ke beberapa daerah lain, seperti ke Sukadana, Mempawah dan lain-lain untuk mempererat tali persaudaraan antara kerajaan Riau dengan kerajaan yang dikunjunginya.
Tokoh ternama dari kerajaan Riau ini mangkat di pulau Penyengat bulan Juli tahun 1884.
Mesjid Raya Sultan Riau

Mesjid yang menjadi kebanggaan orang Melayu Riau ini didirikan pada tanggal 1 Syawal 1249 H (1832 M) atas prakarsa Raja Abdurrahman, Yang Dipertuan Muda Riau VII. Bangunan mesjid ini seluruhnya terbuat dari beton, berukuran 18 x 19,80 meter. Di bagian dalam ruang utama terdapat empat buah tiang utama. Pada keempat sudut bangunan berdiri empat buah menara, sedangkan atapnya terdiri dari 13 buah kubah yang unik. Cerita masyarakat tempatan menyebutkan,untuk membangun mesjid ini, terutama untuk memperkuat beton kubah, menara dan bagian tertentu lainnya, dipergunakan bahan perekat dari campuran putih telur dan kapur. Pelaksanaan pembangunannya melibatkan seluruh lapisan masyarakat di kerajaan Riau, yang bekerja siang malam secara bergiliran.

Di dalam mesjid ini tersimpan pula kitab-kitab kuno (terutama yang menyangkut agama Islam) yang dulunya menjadi koleksi perpustakaan didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf AI Ahmadi,Yang Dipertuan Muda Riau X. Benda lain yang menarik dan terdapat dalam mesjid ini adalah mimbarnya yang indah, serta kitab suci AI Qur’an tulisan tangan.

Bekas Gedung Tabib Kerajaan
Sisa gedung Engku Haji Daud ini hanya berupa empat bidang dinding tembok dengan beberapa buah rangka pintu dan jendela. Gedung ini dahulu dikenal dengan sebutan Gedung Engku Haji Daud atau Gedung Tabib Kerajaan, karena beliau adalah Tabib Kerajaan Riau. Bekas gedung ini banyak menarik pengunjung karena disamping peninggalan sejarah juga terletak di tengah kediaman ramai.
Makam Raja Haji
Raja Haji-Yang Dipertuan Muda Riau IV-adalah pahlawan Melayu yang amat termashur. Beliau berperang melawan penjajah Belanda sejak berusia muda sampai akhir hayatnya dalam peperangan hebat di Tetuk Ketapang tahun 1784.

Raja Haji yang hidup antara tahun 1727-1784 itu telah membuktikan dirinya sebagai pemimpin, hulubalang dan ulama. Para penulis sejarah mencatat, terutama pada tahun 1782-1784 cukup berpengaruh terhadap stabilitas sosial politik dan ekonomi di wilayah Nusantara dan negeri-negeri Belanda yang sangat tergantung terhadap sumber perekonomiannya di Timur.
Pihak Belanda bahkan menganggap bahwa perang yang dipimpin Raja Haji adalah peperangan yang cukup besar dan sempat menggoncangkan kedudukan Belanda di Nusantara. Karena kepahlawanannya itulah, Raja Haji diagungkan masyarakat Melayu, disebut dengan gelar Raja Haji Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang.
Ketika beliau mangkat dalam peperangan hebat di Teluk Ketapang, jenazahnya kemudian dibawa ke Malaka dan dikebumikan disana. Baru beberapa tahun kemudian jenazah beliau dibawa ke pulau Penyengat dan disemayamkan dalam makam yang terletak di Bukit Selatan pulau Penyengat, bersebelahan dengan makam Habib Syekh, seorang ulama terkemuka di kerajaan Riau-Lingga.
Makam Raja Jaafar
Raja Jaafar - Yang Dipertuan Muda Riau VI - adalah putra Raja Haji Sahid Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang. Raja Jaafar menjadi Yang Dipertuan Muda Riau VI tahun 1806-1831. Ketika mangkatnya digelar Marhum Kampung Ladi.
Kompleks makam almarhum Raja Jaafar seluruhnya dibuat dari beton, indah dan kokoh. Pada makam ini terdapat pilar-pilar, kubah-kubah dari beton yang dihiasi ornamen yang menarik. Di luar cungkup makam ini, dalam kompleks makam terdapat pula kolam air yang dilengkapi tangga batu tempat berwuduk. Di kompleks makam ini terdapat pula makam-makam keluarga bangsawan lainnya.
Makam Raja Abdurrakhman
Raja Abdurrakhman - Yang Dipertuan Muda Riau VII - ketika mangkatnya digelar Marhum Kampung Bulang. Raja Abdurrakhman menjadi Yang Dlpertuan Muda Riau tahun 1832-1844. Beliau terkenal aktif dalam menggalakkan pembangunan di pulau ini, serta taat beribadah. Salah satu hasil upaya beliau yang utama adalah pembangunan Mesjid Raya Penyengat. Karena jasanya itutah, ketika beliau meninggal dunia jenazahnya dikebumikan hanya beberapa ratus meter di bagian belakang mesjid, terdapat pada sebuah lereng bukit.
Bekas Istana Sultan Abdurrakhman Muazzam Syah
Bangunan bekas istana Sultan Riau yang terakhir ini hanya berupa puing-puing belaka dahulu. Istana ini disebut Kedaton, dengan lapangan luas di sekitarnya.
Istana ini mulai rusak sejak Sultan Abdurrakhman Muazzam Syah (1833-1911) meninggalkan Penyengat karena dimusuhi Belanda, akibat sikap beliau menentang pemerintahan Betanda tahun 1911. Beliau segera ke Daik dan bergegas meninggalkan Daik dan untuk selanjutnya bermukim di Singapura sampai akhir hayatnya. Sejak itu istana ini tinggal terlantar dan akhirnya runtuh sama sekali, kini tinggal puingnya.
Bekas Gedung Tengku Bilik
Bangunan ini bertingkat dua, walaupun sudah rusak tapi bentuk aslinya masih kelihatan. Bentuk bangunannya merupakan ciri-ciri kesukaan para bangsawan Melayu akhir abad XIX, karena seni bangunan seperti itu masih ditemui di Singapura (istana Kampung Gelam), di Johor dan tempat-tempat lain di semenanjung Malaysia. Bangunan ini masih ditempati sampai masa Perang Dunia II dan sekarang masih menarik pengunjung yang datang ke pulau Penyengat.

Pemilik gedung ini, yaitu Tengku Bilik, adik sultan Riau terakhir, bersuamikan Tengku Abdul Kadir.
Gudang Mesiu
Tak seberapa jauh dari Mesjid Raya Penyengat terdapat bangunan kecil yang seluruhnya terbuat dari beton, tampak amatlah kokoh dengan temboknya setebal satu hasta dengan jendela-jendela kecil berjeriji besi.
Sesuai dengan namanya, gedung ini dahulunya tempat menyimpan mesiu, yang oleh penduduk di daerah ini disebut obat bedil. Melihat gedung ini akan memberi bayangan betapa siapnya kerajaan Riau - Lingga dalam menentang penjajahan di negerinya.
Dahulu, menurut cerita tempatan, di pulau ini terdapat empat buah gedung tempat menyimpan mesiu dan kini hanya tinggal satu ini.
Kubu dan Parit Pertahanan
Di Penyengat terdapat kubu dan parit pertahanan kerajaan Riau dalam peperangan melawan Belanda tahun 1782-1784. Kubu-kubu ini terletak di bukit Penggawa, bukit Tengah dan bukit Kursi. Dahulu, kubu-kubu ini seluruhnya dilengkapi dengan meriam dalam berbagai ukuran. Bagi para wisatawan yang berkunjung, kubu ini amatlah menarik, karena selain mengandung nilai sejarah juga pemandangan alam dari kubu-kubu ini sangat indah pula.
Balai Adat Indra Perkasa
Gedung dengan arsitektur tradisional Melayu Kepulauan ini dijadikan Balai Adat untuk memperagakan berbagai bentuk upacara adat Melayu. Letaknya di tepi pantai menghadap laut lepas, amatlah mempesona.
Di dalam gedung ini dapat dilihat tata ruangan dan beberapa benda kelengkapan adat Resam Melayu atau beberapa atraksi kesenian yang diadakan untuk menghormati tamu tertentu.

pojok pujakusuma lampung

Pesona Liwa
Liwa sebuah kota yang terletak di Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung. Liwa merupakan kota yang cukup dingin, pada malam hari tulang bisa linu dibuatnya. Liwa merupakan penghasil sayuran terbesar di Lampung, walaupun ini tidak terekspose. Penduduk Liwa umumnya adalah penduduk asli Lampung dan pendatang. Mata pencaharian penduduk Liwa umumnya adalah petani. Penduduk asli lebih banyak menanam kopi atau tanaman perkebunan lainnya, sedangkan hortikultura banyak dibudidayakan oleh masyarakat pendatang.

Pemandangan Sudut di Kota Liwa
Jika dilihat dari potensi wisata agro dan wisata alam maka Liwa merupakan tempat yang tepat. Daerah ini sangat asri, dengan deretan bukit barisan selatannya. Gunung Pesagi yang merupakan gunung tertinggi di Lampung ada di daerah ini.

Supri nak Liwa

pojok pujakusuma padang

MEMANCING IKAN GARIANG (Sebuah Pengalaman di Hutan Solok Selatan-Sumbar)


Tahun 1992 disaat saya berada disebuah kawasan hutan tepatnya di Lubuk Gadang, Solok Selatan (setelah Muaro Labuah), tepatnya persimpangan jalan ke Kabupaten Kerinci menuju Sei Penuh-Jambi. Hari Kamis adalah hari Pasar (Minang : Pakan atau Balai), setiap pagi didepan camp saya selalu ada saja penduduk yang turun gunung sambil membawa ikan-ikan hasil pancingan mereka untuk dijual di Pekan yang ramai setiap hari Kamis tersebut. Biasanya mereka mampir dulu di camp kami untuk menawarkan ikan hasil pancingan mereka. Ikan Gariang begitu nama ikannya, berat dan ukurannya bervariasi mulai dari yang kecil sekitar 50 Gram sampai yang besarnya bisa mencapai berat 6-8 Kg lebih.

Ikan gariang ini seperti ikan tawes, sisiknya keperakan dan berkilau, daging ikan ini berduri halus rasanya gurih dengan serpihan daging yang renyah jika digoreng. Saya selalu membayangkan penduduk ini memancing ikan garing, betapa asyiknya ketika pancing mereka ditarik ikan garing ini saat mereka pergi ke hutan perawan yang merupakan hulu sungai Batang Hari. Tidak perlu berlama-lama saya berakrab ria dengan mereka saat berbincang-bincang di camp, sambil membeli ikan hasil tangkapan mereka saya menawarkan diri untuk ikut pergi mandah bersama mereka memancing ikan gariang.

Awalnya mereka menyangsikan saya, mereka berpikir sekedar basa basi saya saja dalam menyapa mereka, tapi saya tanpa tedeng aling menyampaikan niat dan kemauan keras saya untuk ikut bersama mereka, tapi nampaknya mereka masih ragu dan berkata “Yang benar nih..Yuang mau ikut kami kedalam hutan sana, tinggal di pondok dengan kondisi yang serba terbatas disamping itu cuaca yang dingin di tengah hutan rimba sana” atas pernyataan mereka yang meragukan keseriusan saya tersebut, saya meyakin mereka “Pak, saya ini kalau bercerita masalah memancing dialam bebas bukan hal yang aneh lagi dan saya siap dengan situasi serta kondisi di hutan sana, mandah (berkemah) didalam hutan akan selalu saya rindukan” lalu saya menceritakan seputar pengalaman saya berakrab ria dengan hutan dan segala jenis ikan yang pernah saya pancing di sungai-sungai yang mengalir didalam hutan.

Mereka cukup larut mendengar ocehan saya seputar pengetahuan serta wawasan saya memancing di alam bebas, disamping itu untuk meyakin mereka saya perlihatkan segala alat pancing yang memang selalu saya bawa dimanapun saya bekerja, lalu saya tunjukan “aksi” bagaimana memasang mata pancing, keseimbangan antara mata pancing dengan nilon serta menjelaskan teknik jika pancing kita ditarik oleh ikan yang cukup besar sementara tali nilonnya halus.

Mereka hanya manggut-manggut dan berkata “Jika anda mau ikut kami setiap hari Selasa masuk ke hutan menuju hulu sungai Batang Hari serta sungai-sungai kecil lainnya (anak sungai), kami mandah sampai subuh Kamis lalu turun sambil membawa ikan untuk dijual di Pekan Lubuk Gadang” Atas tawaran yang bersahabat ini saya kembali meyakin mereka “Terima kasih Pak Insya Allah saya ikut, pokoknya beres rokok, gula dan kopi serta mie instant tanggung jawab saya, jam berapa saya tunggu di camp pada hari Selasa tersebut untuk berangkat ke dalam hutan”. Tanya saya. Mereka memastikan janji pada saya kapan bersama-sama masuk hutan “Bapak tunggu kami di camp ini sekitar jam 7 pagi. Deal..!!! sambil saya salaman dengan mereka dan menyerahkan uang Rp 20.000 untuk 3 Kg lebih ikan garing, harga ikan tersebut pada saat itu dipasaran sekitar Rp 5.000/Kg.

Akhirnya waktu yang ditunggu datang juga, dari jam 6 pagi saya sudah menunggu mereka di depan camp sambil mengopi, peralatan pancing telah saya kemas rapi, sebuah tas ransel yang berisi beberapa helai pakaian dan celana serta “sembako” untuk kebutuhan mandah dihutan sana, tidak lupa jaket parasut yang cukup tebal dan mumpuni untuk melindungi diri dari hawa dingin dan hujan saat memancing dan tidur nantinya didalam pondok mereka. Desa Lubuk Gadang yang terletak dikaki pegunungan Bukit Barisan didaerah Solok Selatan cuacanya sangat dingin diwaktu subuh saat kita menyentuh air dinginnya serasa memegang Es yang mencair, Ini ditandai juga minyak goreng di dapur camp saya selalu dalam keaadan membeku (mengental warna kuning keputihan) perlu dipanaskan sejenak botol minyak goreng tersebut didekat bara tungku yang sedang menyala agar mencair dan siap digunakan.

Pada hari selasa minggu depannya sejak pertemuan dengan mereka , menjelang jam 7 dari camp saya lemparkan pandangan kearah jalan, “itu mereka..! telah datang “ beriringan berjalan 3 orang sambil menyandang tas ransel lengkap dengan bahan makanan untuk kebutuhan hidup selama mandah, alat-alat pancing mereka ditinggal di pondok didalam hutan, biasanya mereka membawa umpan pancing untuk ikan garing yaitu ubi rambat (Minang : Ubi Jala Merah) yang dipotong-potong seukuran dadu, ini salah satu alternative umpan, tapi menurut mereka ikan gariang sangat ganas memakan umpan udang-udang hidup yang mereka dapatkan di anak-anak sungai seputar pondok mereka dengan cara memakai jaring nilon bermata kecil yang dililitkan pada rotan membentuk lingkaran (Minang : Tangguak).

Sesampai di camp saya mereka istirahat sejenak dan mereka cukup terkesan atas segala keseriusan saya ikut memancing dan mandah, saya tawarkan kepada mereka sebelum kaki melangkah menuju hutan minum kopi sambil menikmati biscuit yang memang telah saya siapkan. Selesai minum kopi kami segera menuju pondok ditengah lebatnya hutan bukit barisan Solak Selatan, perjalanan dari camp saya menuju pondok tersebut ditempuh selama 3 jam lebih berjalan kaki menelerusi jalan-jalan HPH (Logging Road) dengan medan yang cukup menguras tenaga dan napas saya, mendaki bukit, menuruni lembah, menyusuri punggung bukit (kontur) sampai berakhir jalan HPH, perjalanan dilanjutkan menempuh jalan setapak diantara lebatnya hutan yang lantainya selalu basah dengan lapisan serasah empuk dari bekas daun-daun pepohan yang gugur.

Menjelang sampai di pondok sayup-sayup terdengar deru air sungai yang mengalir, akhirnya kami sampai di pondok yang terletak disebuah dataran pinggir sungai.

Woowww ,,!! sebuah pemandangan yang menakjubkan khas hutan perawan pegunungan, kiri kanan pondok hutan tropis yang basah dengan aneka pohon-pohon berdiameter besar dengan tajuknya (canopy) yang rimbun sehingga cahaya matahari tengah hari sayup-sayup sampai menyentuh lantai hutan, udara yang sejuk bahkan cukup dingin disaat matahari bergerak diatas puncak puncak kepala.

Sungai yang cukup lebar dengan air yang jernih bening mengalir diantara bebatuan dan cadas, tebing dikiri kanan badan sungai. Anak-anak sungai berlomba-lomba mengalir memenuhi Hulu Sungai Batang Hari, sungguh sebuah pemandangan yang memesona dan ini selalu saya rindukan sebagai salah seorang yang berlatar belakang pendidikan di dunia kehutanan.

Kami istirahat sejenak di Pondok berupa panggung dengan atap plastik biru berukuran 3 kali 4 meter beralaskan kayu diameter 6-8 Cm yang disusun rapat dan diikat rotan lalu dialas dengan tikar pandan. Dibelakang pondok terdapat sebuah emperen dengan dua buah tungku untuk memasak serta peralatan sederhana rumah tangga yang tergantung seperti periuk, kuali, jerek dan beberapa piring plastik, sendok makan dan sendok gorengan yang disusun disebuah rak kayu. Diatas tungku tersusun kayu yang dibelah serta ranting-ranting kayu sebagai bahan bakar untuk memasak.

Selesai kami menarok barang bawaan masing-masing didalam pondok, lalu kami membagi tugas saya menawarkan diri membantu memasak dengan salah satu dari mereka, sementara dua orang lagi pergi mencari udang di anak-anak sungai untuk umpan memancing ikan gariang. Memasak dihutan saat survey dan mandah bukan hal yang asing lagi bagi saya, boleh dikatakan saya cukup cekatan yang membuat “kawan-kawan baru” saya ini terkagum-kagum malah saya mengatur menu siang itu. Sederhana saja ikan asin goreng yang ditumis dengan cabe giling, sambil menunggu udang kecil yang didapat menjelang makan saya akan tumis mie instant dengan udang-udang tersebut, tidak lupa saya berpesan dan memang mereka sudah tahu agar nanti dicari pakis (Minang : Paku) yang biasanya banyak tumbuh dipinggir anak-anak sungai seputar pondok kita . Rencananya nanti malam saya akan hadirkan menu cah pakis dengan udang serta ikan bakar gariang…waaaa..membayangkannya saja membuat perut saya semakin “menggigil” lapar disiang hari ini.

Kami kembali berkumpul di Pondok sesuai rencana, umpan udang telah didapat dimasukan dalam kantong yang berbentuk jaring lalu ditenggelamkan ke anak sungai dengan mengikatnya kesebuah batang kayu yang tumbuh dipinggir anak sungai. Udang-udang sebesar ibu jari saya ambil beberapa ekor lalu saya kupas…mmmm..harumnya udang ini saya tumis dengan bawang merah dan bawang putih yang diiris tipis, setengah matang saya tuangkan air dalam kuali menjelang mendidih saya rendamkan 3 kantong mie instant lengkap dengan bumbu yang telah tersedia.

Ikan asin goreng balado, Mie kuah tumis udang yang masih panas, nasi didalam periuk yang tak kalahnya ikut-ikutan mengepulkan asap, cuaca tengah hari yang sejuk, perut yang menggigil kelaparan inilah sebuah kenikmatan yang tiada tara ditengah hutan walau dengan cara-cara yang sangat sederhana serta menu yang boleh dikatakan jika tinggal dikota bisa jadi dilirik sebelah mata. Betapa lahapnya kami menyantap hidangan ini, silahkan ambil tempat duduk dimana saja, nikmati makan siang ini dengan memandang alam sekitarnya serta dihibur simpony deru dan gemericik air sungai yang mengalir lalu ketika nasi disuap nikmati juga permainan solo suara kicau burung yang bergerak lincah diantara dahan ke dahan. Suara burung yang sedang dimabuk cinta, penuh gaya untuk memikat sang pujaan hati untuk segera bercengkrama memadu kasih, melayang-layang indah di alam bebas…mmm…apa yang anda pikirkan ?

Selesai sudah makan siang yang fantastis ini, sambil menunggu makanan yang telah masuk ke lambung kami dicerna dengan sempurna sambil mengisap sabatang dua batang rokok ditambah hirupan kopi panas, kami menyusun rencana memancing yang akan dimulai sekitar jam 2.30 an menjelang magrib. Tiba waktunya untuk berangkat memancing, dari pondok kami menuju sungai yang arusnya cukup tenang atau mereka istilahkan “lubuk” (Minang : Lubuak Ikan) dimana mempunyai kedalaman tertentu dan biasanya disanalah komunitas ikan gariang berkumpul bersama jenis-jenis ikan lainnya khas sungai di pegunungan hutan tropis.

Kami telah berada di lubuak ikan lalu masing-masing mengambil posisi dan membagi umpan udang dan potongan dadu ubi rambat secukupnya. Ada dua cara dalam memancing ikan gariang ini, pertama dengan melempar pancing secara lansung ke lubuk tersebut yang kedua dengan menautkan tali pancing di pinggir sungai lalu dilemparkan ke lubuk tanpa di tunggu. Biasana ikan garing belum terlalu ganas memakan umpan pada jam 3 sampai menjelang pukul 5, tapi selepas jam lima menjelang Magrib baru ikan-ikan ini aktif dan ganas memakan umpan. Tapi menurut mereka jika udang hidup “nggak ada matinya” jika berhadapan “head to head” dengan garing di dalam lubuk sana, lansung mereka santap. Ikan garing kata mereka akan selalu hatinya “terbakar dan panas” jika didepan mereka berseliweran udang-udang hidup.

Faktanya begitu tidak lama menunggu diantara kami sudah mengangkat beberapa ikan gariang rata-rata berat 1 kiloaan. Ikan yang baru didapat dalam keaadan hidup segera kami masukan dalam keramba berbentuk kotak persegi yang terbuat dari kayu-kayu berdiameter kecil dengan pintu kecil diatasnya yang bisa ditutup buka. Ikan-ikan ini dimasukan dalam keramba tersebut lalu dibenamkan dipinggir sungai dengan menimpanya dengan beberapa batu ukuran sedang. Keramba ini diikat dengan tali nilon jemuran dibatang-batang kayu yang tumbuh dipinggir sungai.

“Pak kapan kita dapatkan “mbahnya” ikan gariang” begitu Tanya saya kepada salah seorang dari mereka yang boleh dikatakan paling ahli (baca: rada-rada punya ilmu atau biasa disebut juga pawang ikan). Dijawab oleh pawang ini “ntar sore menjelang magrib dan subuh-subuh besok menjelang jam 10 pagi, mau ikut subuh-subuh asal tahan dingin yang menusuk tulang saja”. Insya Allah ikut Pak…kalau keenakan tidur dipondok subuh-subuh apaboleh buat tinggalin saja saya Pak, tapi saya ingin sekali ikut merasakan tarikan “mbah” ikan garing.

Menjelang magrib kami telah mendapatkan banyak ikan garing berbagai ukuran dan berat serta jenis ikan lain seperti ikan panjang (Moa). Pada umumnya yang menjadi incaran mereka memang Ikan Gariang ini sebagai sumber mata pencaharian. Kami pulang ke pondok dengan membawa beberapa ikan gariang untuk santap malam, terlebih dahulu ikan tersebut telah kami bersihkan disungai dan nantinya di pondok siap untuk di bakar. Sampai di pondok kembali saya beraksi menunjukan kecekatan tangan saya dalam membakar ikan serta meramu saosnya., tidak lupa saya membuat cah pakis yang lezat dan mengundang selera dengan campuran potongan daging udang sisa umpan. Selepas shalat magrib cuaca semakin dingin semakin terasa menghantam tubuh walau saya telah memakai jaket dan topi sebo rep. Kami berkumpul dipondok dengan penerangan lampu teplok siap menyantap hidangan yang luar biasa ini. Mereka hanya bisa tersenyum puas dan merasakan lain dari suasana yang selama ini mereka alami tanpa saya. Biasanya mereka makan yang praktis dan asal jadi saja yang penting nasi serta sambal tersedia. Tapi kali ini saya menghadirkan menu yang menurut mereka tertata baik dari segi rasa maupun tampilan.

“Ondee..Ndi..yo babeda bana..rasonyo..makan kami. Biasonyo kami sanduak nasi di pariuak tu mancongkong ditungku sambia mambaka Ikan Gariang nan dibaka asa jadi sajo, lah ado lado lah jadi tu dek kami, kini ko sayua pakih batumih-tumih bagai pakai udang..yo santiang rasonyo” kata pawang ikan “(Walah… Ndi.. sangat beda rasanya makan kami, biasanya kami nongkrong di tungku membakar ikan gariang asal masak saja, yang penting sambal lado tersedia cukup sudah, tapi kali ini kami makan pakai tumis pakis sama udang, mmm..memang enak sekali rasanya).

Kenyang sudah “Los Lambung”, sambil bersandar menikmati kepulan asap rokok kami larut dengan pikiran masing-masing tanpa banyak berkata-kata lagi. Setelah shalat Isya kami mengobrol sejenak untuk lebih mengenal apa dan bagaimana diri masing-masing serta cerita menarik lainnya seputar “penghuni hutan”. Jam 10 kami telah “mengukur” panjang pondok dengan badan masing-masing, tapi nampaknya panjang lantai pondok ini semakin pendek rasanya karena badan kami melengkung (Minang : Mancingkuak) tidur menahan dingin yang menusuk tulang.

Subuh sekitar jam 4.30 Mak Pawang Ikan telah bangun dan merebus air, sementara saya masih tertidur lelap dikedingin subuh, berat rasanya untuk bergerak memulai aktivitas dipagi buta dalam kegelapan hutan yang lebat. Tapi jika terngiang cerita Mak Pawang tarikan ikan garing yang ganas pada pagi hari saya memaksakan diri untuk bangun jam 5 pagi.Dinginnya cuaca diluar pondok luar biasa sangat berat langkah bahkan untuk mengambil wudhuk shalat subuh, setiap tetesan air di parit kecil disamping pondok kami begitu menghujam menusuk tulang dinginnya saat menyentuh kaki, tangan, muka dan telinga.. brrrrrr… rrrrrrrrr.!!!!

Selesai shalat subuh saya berdiang dipanasnya api tungku, inilah kerja yang efektif seperti kata pepatah Minang “ Sambia badiang, nasi masak” (Sambil memanaskan diri di tungku, nasi masak), setiap teguk kopi panas yang dibikin Mak Pawang begitu nikmat terasa. Jam 5.30 kami semua telah sarapan kali ini praktis saja menu kami, mie instant rebus berkuah plus sisa ikan bakar semalam yang kami panaskan sejenak di atas tungku yang masih membara. Selesai makan kami berangkat ke “Lubuk Ikan Gariang”, diperjalanan kami mencari udang disekitar anak-anak sungai untuk umpan nantinya.

Jam 6 an kami telah sampai di lubuk sungai, sebelum pancing dilempar kami memeriksa pancing yang ditahan (ditautkan) di pinggir sungai dengan umpan ubi merah. Waw…cukup lumayan dapat ikan garing dengan berat yang bervariasi antar 500 gram sampai 3 kilogram. Ikan-ikan yang masih hidup kami masukan dalam keramba bergabung dengan hasil pancingan yang lain. Kami masing-masing mencari posisi diatas tebing-tebing yang landai dengan ketinggian dari permukaan sungai sekitar 2 meter. Saya menggunakan joran berbentuk antene dengan panjang 4 meter serta kotrol dengan tali nilon ukuran kecil tapi berkualitas buatan Amerika (Barcley ?). Begitu juga joran dan katrol bermerek Shimano sudah 2 tahun saya gunakan sejak pertama dibeli dan tidak pernah bermasalah.
Tali nilon bersama pancing dengan pemberat timah telah saya lempar ke ikan gariang, memang “nggak ada matinya” jika memancing kesarang ikan, tanpa berlama-lama pancing saya ditarik..syuttttttt…ujung joran saya melengkung, dengan sentakan ringan mulut ikan sudah terkait dimata pancing saya didalam lubuk sana. Ikan garing melakukan perlawanan yang tangguh, semakin saya.

…….bersambung..ntar dilanutin Sanak

Catatan :
Tulisan ini terinspirasi ketika sedang melakukan perjalanan dari Pekanbaru-Padang dan Istirahat di Lembah Anai, pinggir Jalan yang ada Bentangan Jembatan Kereta Api yang masih kokoh berdiri di Lembah Anai. Dijalan lintas Lembah Anai penduduk sedang menjajakan Ikan Gariang yang didapat dari hasil pancingan sungai2 di seputar hutan Lembah Anai

pojok pujakusuma palembang

[pembuka : bukankah suasana "komunikasi" seperti ini sebetulnya membuat kita
rindu?]

kak yan,
awak dimano? ngapo idak datang ke rumah?

"idak katik = katik"

kasus tersebut bukan hanya terjadi pada bahasa palembang.. tapi juga ada pada
bahasa jawa. yaitu kata "kamu nggak papa?".. kebiasan dari kita menjawabnya
dengan kata "nggak".. [apa artinya?]

juga dengan kata "gak tahu" dalam dialek ibukota.
bukankah kata "gak tahu" (tidak tahu / tidak mengerti) juga sering disingkat
"tahu".. tapi tentunya disertai intonasi atau penekanan nada. dan masih banyak
loh.. contoh2 yang lain...

kasus lain bisa kita lihat pada kata "acuh tak acuh"..
dengan hanya menyebut kata "acuh", maka arti yang didapat sudah sama dengan
menyebut kata "acuh tak acuh" = cuek

mungkin yang lain mau nambahi?

kak yan,
di pasar cinde khan banyak tuh yang jual dhawet ayu, saya sengaja beli.. saya
pikir dia dari daerha banjarnegara sana.. makanya saya dengan gagah berani
sewaktu mbayar ngomong begini :
"pira pak?" eh... dijawab dia "setengah duo" (= 1,500).. he.. he... ternyata
penjual dhawet ayu itu asli plembang.... [aku ketipu...]


@uda twinto,
samo da, ambo lah lamo indak pulang ka kampuang. lah ado duo tigo tahunan.

bak kato pepatah,
dimano kaki bapijak, disiko langik dijunjuang. [kalo nggak salah] a maksuidnyo
da?





> Bahasa Palembang
> Saya sudah 8(delapan) tahun merantau di Palembang sampai
> mau pindah lagi
> belum ngerti logika bahasa Palembang:
> Contohnya:
> Kalau kita mau beli sesuatu di warung, si penjual bilang
> : "idak katik kak "
> ("nggak ada mas") artinya barang yang kita beli nggak
> ada, kemudian jika
> kita tanya warung di sebelahnya si penjual menjawab :
> "katik kak"("?"),
> sebagai orang luar tentu kita akan tanya "mana barangnya"
> karena kita pikir
> berarti ada ,ternyata si penjual malah menggelengkan
> kepalanya.(lho?).
> Setelah saya tanya sana sini ternyata "idak katik" dengan
> "katik" sama saja
> yaitu "tidak ada".
> Jadi kalau kita sudah belajar logika matematika/digital
> jangan diterapkan
> kalau berbahasa Palembang.
> Gimana kang Heri & kang Gredi udah pernah mengalami
> belum?
> Tapi bagaimanapun juga itu merupakan kekayaan budaya
> bahasa kita.