[pembuka : bukankah suasana "komunikasi" seperti ini sebetulnya membuat kita
rindu?]
kak yan,
awak dimano? ngapo idak datang ke rumah?
"idak katik = katik"
kasus tersebut bukan hanya terjadi pada bahasa palembang.. tapi juga ada pada
bahasa jawa. yaitu kata "kamu nggak papa?".. kebiasan dari kita menjawabnya
dengan kata "nggak".. [apa artinya?]
juga dengan kata "gak tahu" dalam dialek ibukota.
bukankah kata "gak tahu" (tidak tahu / tidak mengerti) juga sering disingkat
"tahu".. tapi tentunya disertai intonasi atau penekanan nada. dan masih banyak
loh.. contoh2 yang lain...
kasus lain bisa kita lihat pada kata "acuh tak acuh"..
dengan hanya menyebut kata "acuh", maka arti yang didapat sudah sama dengan
menyebut kata "acuh tak acuh" = cuek
mungkin yang lain mau nambahi?
kak yan,
di pasar cinde khan banyak tuh yang jual dhawet ayu, saya sengaja beli.. saya
pikir dia dari daerha banjarnegara sana.. makanya saya dengan gagah berani
sewaktu mbayar ngomong begini :
"pira pak?" eh... dijawab dia "setengah duo" (= 1,500).. he.. he... ternyata
penjual dhawet ayu itu asli plembang.... [aku ketipu...]
@uda twinto,
samo da, ambo lah lamo indak pulang ka kampuang. lah ado duo tigo tahunan.
bak kato pepatah,
dimano kaki bapijak, disiko langik dijunjuang. [kalo nggak salah] a maksuidnyo
da?
> Bahasa Palembang
> Saya sudah 8(delapan) tahun merantau di Palembang sampai
> mau pindah lagi
> belum ngerti logika bahasa Palembang:
> Contohnya:
> Kalau kita mau beli sesuatu di warung, si penjual bilang
> : "idak katik kak "
> ("nggak ada mas") artinya barang yang kita beli nggak
> ada, kemudian jika
> kita tanya warung di sebelahnya si penjual menjawab :
> "katik kak"("?"),
> sebagai orang luar tentu kita akan tanya "mana barangnya"
> karena kita pikir
> berarti ada ,ternyata si penjual malah menggelengkan
> kepalanya.(lho?).
> Setelah saya tanya sana sini ternyata "idak katik" dengan
> "katik" sama saja
> yaitu "tidak ada".
> Jadi kalau kita sudah belajar logika matematika/digital
> jangan diterapkan
> kalau berbahasa Palembang.
> Gimana kang Heri & kang Gredi udah pernah mengalami
> belum?
> Tapi bagaimanapun juga itu merupakan kekayaan budaya
> bahasa kita.
Rabu, 24 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar