Selasa, 06 Januari 2009

Alamat email Pujakusuma

Buat rekan rekan khususnya pujakusuma dan umumnya semua pengunjung pujakusuma apabila mau kirim salam ke : pujakusuma_batam@yahoo.co.id

Kamis, 25 Desember 2008

rantau pujakusuma

elama dua hari di Lampung, saya mengkonfirmasi maraknya organisasi etnis-primordial yang sebelumnya, informasinya saya dapat dari kawan-kawan Lampung. Maraknya organisasi primordial itu terjadi sejak reformasi politik 98. Banyak organisasi berbau primordial, etnis berdiri. Beberapa kawan risau dengan arus primordialisme ini.Proses integrasi antara pendatang dan warga asli tampak tidak terjadi?

Menurut beberapa sumber, gejala itu muncul dan berkembang sejak reformasi politik. Saya tidak tahu apakah gejala ini menunjukkan terjadinya proses atomisasi masyakat atau tidak, akan tetapi munculnya paguyuban-paguyuban berbau etnis itu, mengindikasikan bahwa ada yang belum selesai dalam proses integrasi dalam program transmigrasi yang digagas sejak presiden Sukarno sampai Presiden Suharto.


Menurut beberapa sumber, gejala itu muncul dan berkembang sejak reformasi politik. Saya tidak tahu apakah gejala ini menunjukkan terjadinya proses atomisasi masyakat atau tidak, akan tetapi munculnya paguyuban-paguyuban berbau etnis itu, mengindikasikan bahwa ada yang belum selesai dalam proses integrasi dalam program transmigrasi yang digagas sejak presiden Sukarno sampai Presiden Suharto.



Ada paguyuban PENGIYONGAN yang beranggotakan masyarakat Jawa Tengah yang menggunanakan kosa kata Inyong untuk mengebut ‘aku’. Anggotanya masyarakat transmigran yang berasal dari Banyumas, Kebumen, Tegal, Brebes, Pemalang, Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga. Sementara PUJAKUSUMA (Putra Jawa Kelahiran Sumatra) merupakan paguyuban masyarakat yang berasal dari Jogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada lagi paguyuban bernama PATRI (Paguyuban Anak Transmigrasi Lampung). Ketuanya Muhajir Utomo, mantan Rektor Universitas Lampung (UNILA). Masyarakat yang berasal dari Banten, paguyubannya bernama PAKU BANTEN, KBSS (Keluarga Besar Sulawesi Selatan) dan Batang Hari Sembilan merupakan organisasi masyarakat Palembang yang ada di Lampung. Sementara organisasi masyarakat pribumi,bernama Lampung Sae.

Pertanda apakah menjamurnya organisasi paguyuban semacam ini? Itu pertanyaan yang hendak saya diskusikan melalui postingan ini. Adakah diam-diam memang proses akulturasi, proses asimilasi dan proses integrasi antara masyarakat transmigran dengan masyarakat setempat telah gagal? Apakah saudara-saudara kita, yang sudah lama menghuni bumi Lampung, yang telah mencangkul, menanam pagi dan menghirup udara bersih di Lampung masih kental dan kuat ikatan dengan etnis asal usulnya? Apakah muncuatnya paguyuban etnis itu merupakan penegasan identitas atau sekedar ekspresi untuk bernostalgia dengan tanah leluhurnya.

Saya kemudian temui beberapa orang dari etnis Jawa, Makasar, Banten, Minang dan masyarakat pribumi Lampung. Kesimpulan sementara saya, tidak ikatan emosional dengan organisasi-organisasi primordial itu. Munculnya organisasi itu fenomena elit belaka. Sudah barang tentu, fenomena ini terkait dengan masalah politik di tingkat lokal.

Saya lalu coba menulusur data statistik. 70% warga Lampung beretnis Jawa. Kemudian secara politik, pendatang memang memiliki peran politik yang dominant. Jabatan-jabatan politik dan akses ekonomi dipegang oleh pendatang, pada moment reformasi ini baru orang asli Lampung menduduki jabatan tertinggi dalam politik sebagai Gubernur

Rabu, 24 Desember 2008

VISI DAN MISI PUJAKUSUMA

APA SIH VISI DAN MISI PUJAKUSUMA

Pengurus Pujakusuma

SUSUNAN PENGURUS PUJAKUSUMA BATAM

1. PENDIRI :
2. KETUA :
3. SEKRETARIS :
4. BENDAHARA :

DLL BILA DIPERLUKAN.....

reuni anggota pujakusuma

buat pendiri pujakusuma didunia nyata.............coba direncanakan untuk pertemuan supaya ada ikatan yang lebih dekat disini saya hanya bisa bermain didunia maya..................tapi saya selalu mendukung kegiatan ini....saking senangnya saya membuat blog ini....




salam buat pengurus pujakusuma

dari saya

pojok pujakusuma jambi

1. Sebutan Diri
Kelompok masyarakat terasing yang bermukim di sekitar pegunungan duabelas Jambi menyebut diri Orang Rimba yang dibedakan dengan masyarakat luar, yang disebut orang terang. Anak Dalam juga merupakan sebutan diri yang mereka senangi, dan mereka sangat marah jika disebut orang Kubu, sebutan itu dianggap merendahkan diri mereka. Dalam percakapan antar warga masyarakat jambi tentang orang Kubu tercermin dari ungkapan seseorang yang menunjukan segi kedudukan dan kebodohan, misalnya membuang sampah sembarangan diumpat “Kubu kau….!”. sebutan lain yang disenangi orang rimba ialah “sanak”, yaitu cara memanggil seseorang yang belum kenal dan jarang bertemu. Bila sudah sering bertemu maka panggilan akrab ialah “nco” yang berarti kawan.(Soetomo, 1995:58)
Senada dengan diatas Butet Manurung juga mengemukakan bahwa, kubu berarti kotor, primitif, kafir, atau arti lain yang senada. Kata ini sebenarnya berasal dari Orang Rimba yang justru dipakai oleh orang luar untuk menunjukan identitas Orang Rimba yang “primitif”. Di kemudian hari, penyebutan ini ternyata mempengaruhi cara pandang dan perilaku Orang Rimba bila berhadapan dengan orang luar. Mereka menjadi merasa rendah diri dan hilang kepercayaan terhadap dirinya sendiri. (Manurung, 2007:41)
2. Asal Usul Suku Anak Dalam (Orang Rimba)
Tentang asal usul Suku Anak Dalam (Muchlas, 1975) menyebutkan bermacam cerita/hikayat dari penuturan lisan yakni: Cerita Buah Gelumpang, Tambo Anak Dalam (Minangkabau), Cerita Orang Kayu Hitam, Cerita Seri Sumatera Tengah, Cerita Perang Jambi dengan Belanda, Cerita Tambo Sriwijaya, Cerita Turunan Ulu Besar dan Bayat, Cerita tentang Orang Kubu. Dari cerita/hikayat tersebut Muchlas menarik kesimpulan bahwa Anak Dalam berasal dari tiga keturunan:
1. Keturunan dari Sumatera Selatan, umumnya tinggal di wilayah Kabupaten Batanghari.
2. Keturunan dari Minangkabau umumnya di Kabupaten Bungo Tebo sebagian Mersan.
3. Keturunan dari Jambi Asli ialah Kubu Air Hitam Kabupaten Sarolangun Bangko.
Versi lain asal usul menurut Orang Rimba sendiri dalam Disertasi Muntholib Soetomo yaitu, seorang yang gagah berani bernama Bujang Perantau. Pada suatu hari memperoleh buah gelumpang dan dibawa kerumahnya. Suatu malam ia bermimpi agar buah gelumpang itu dibungkus dengan kain putih yang nanti akan terjadi keajaiban, yang berubah menjadi seorang putri yang cantik. Putri itu mengajak kawin Bujang Perantau, namun Bujang Perantau berkata bahwa tidak ada orang yang mengawinkan mereka. Putri tersebut berkata : “Potonglah sebatang kayu bayur dan kupas kulitnya kemudian lintangkan di sungai, kamu berjalan dari pakal saya dari ujung. Kalau kiata dapat beradu kening di atas kayu tersebut berarti kita sudah kawin”. Permintaan itu dipenuhi oleh Bujang Perantau dan terpenuhi segala syaratnya, kemudian keduanya menjadi suami isteri. Dari hasil perkawinan itu lahirlah empat orang anak, yaitu Bujang Malapangi, Dewo Tunggal, Putri Gading, Dan Putri Selaro Pinang Masak. Bujang Malapangi, anak tertua yang bertindak sebagai pangkal waris dan Putri Selaro Pinang masak sebagai anak bungsu atau disebut juga ujung waris keluar dari hutan untuk pergi membuat kampung dan masuk islam; ke duanya menjadi orang Terang. Putri Selaras Pinang Masak menetap di Seregam Tembesi, sedangkan Bujang Malapangi membuat kampung pertama di sekitar sungai Makekal pertama di Kembang Bungo, ke dua Empang Tilan, ke tiga di Cempedak Emas, ke empat di Perumah Buruk, ke lima di Limau Sundai, dan kampong terakhir di Tanah Garo sekarang. Hal inilah membuat orang Rimba menjadikan tokoh keturunan Bujang Malapangi sebagai Jenang (orang yang dapat diterima oleh orang Rimba dan juga oleh orang lain, selain orang Rimba yang berfungsi sebagai perantara bagi orang Rimbo yang akan berhubungan dengan orang lain atau orang lain yang akan berhubungan dengan orang Rimba). Jenang yang paling berpengaruh dijadikan rajo (raja), dan segala urusan antara orang Rimba dengan orang luar harus melibatkan Jenang mereka dan rajo-nya.
Secara mitologi, mereka (Suku Anak-Dalam) masih menganggap satu keturunan dengan Puyang Lebar Telapak yang berasal dari Desa Cambai, Muara Enim. Menurut pengingatan mereka, yang didapat dari penuturan kakek-neneknya, bahwa sebelum mereka bertempat tinggal di wilayah Sako Suban, mereka tinggal di dusun Belani, wilayah Muara Rupit. Mereka hijrah karena terdesak waktu perang ketika zaman kesultanan Palembang dan ketika masa penjajahan kolonial Belanda. Secara tepat waktu kapan mereka hijrah tidak diketahui lagi, yang mereka (Suku Anak Dalam) ingat berdasarkan penuturan, hanya masa kesultanan Palembang dan masa penjajahan Belanda. Dari Dusun Belani, Suku Anak-Dalam mundur lebih masuk ke hutan dan sampai di wilayah Sako Suban. Di wilayah Sako Suban ini, mereka bermukim di wilayah daratan diantara sungai Sako Suban dan sungai Sialang, keduanya sebagai anak dari sungai Batanghari Leko. Wilayah pemukiman yang mereka tempati disebut dengan Tunggul Mangris. (Dirjen Bina Masyarakat Terasing Depsos RI, 1998 :55-56)
Versi Departemen sosial dalam data dan informasi Depsos RI (1990) menyebutkan asal usul Suku Anak-Dalam yakni : sejak Tasun 1624 Kesultanan Palembang dan Kerajaan Jambi, yang sebenarnya masih satu rumpun, memang terus menerus bersitegang dan pertempuran di Air Hitam akhirnya pecah pada tahun 1629. Versi ini menunjukkan mengapa saat ini ada dua kelompok masyarakat anak-dalam dengan bahasa, bentuk fisik, tempat tinggal dan adat istiadat yang berbeda. Mereka yang menempati belantara Musi Rawas (Sumatera Selatan) berbahasa Melayu, berkulit kuning dengan postur tubuh ras Mongoloid seperti orang Palembang sekarang. Mereka ini keturunan pasukan palembang. Kelompok lainnya tinggal di kawasan hutan Jambi berkulit sawo matang, rambut ikal, mata menjorok ke dalam. Mereka tergolong ras wedoid (campuran wedda dan negrito). Konon mereka tentara bayaran Kerajaan Jambi dari negeri lain.
Versi lain adalah cerita tentang perang jambi dengan belanda yang berakhir pada tahun 1904, pihak pasukan Jambi yang dibela oleh Anak-Dalam yang dipimpin oleh Raden Perang. Raden Perang adalah cucu Raden Nagasari. Dalam perang gerilya maka terkenallah Anak-Dalam dengan sebutan Orang Kubu artinya orang yang tak mau menyerah pada penjajah Belanda yang membawa penyakit jauh senjata api. Orang Belanda disebut Orang Kayo Putih sebagai lawan Raja Jambi (Orang Kayo Hitam) (Muchlas,1995).
Lebih lanjut tentang asal-usul “Suku Anak-Dalam” ini juga dimuat pada seri profil masyarakat terasing (BMT, Depsos, 1988) yakni sebagai berikut :
Pada zaman dahulu kala terjadi peperangan antara Kerajaan Jambi yang dipimpin oleh Puti Selaras Pinang Masak dan kerajaan Tanjung Jabung dipimpin oleh Rangkayo Hitam. Peperangan ini semakin berkobar, akhirnya didengar oleh Raja Pagar Ruyung, yaitu ayah dari Puti Selaras Pinang Masak. Raja Pagar Ruyung memerintahkan agar dapat menaklukkan Kerajaan Rangkayo Hitam, mereka menyanggupi dan bersumpah/berjanji tidak akan kembali sebelum menang. Jarak antara kerajaan Pagar Ruyung dengan Kerajaan Jambi sangat jauh, harus melalui hutan rimba belantara dengan berjalan kaki. Perjalanan mereka sudah berhari-hari lamanya, kondisi mereka sudah mulai menurun sedangkan persediaan bahan makanan sudah habis, mereka sudah kebingungan. Perjalanan yang ditempuh masih jauh, untuk kembali ke Kerajaan Pagar Ruyung mereka merasa malu. Sehingga mereka bermusyawarah untuk mempertahankan diri hidup didalam rimba.
Untuk menghindari rasa malu mereka mencari tempat-tempat yang sepi dan jauh ke dalam rimba raya. Keadaan kehidupan mereka makin lama semakin terpencil, keturunan mereka menamakan dirinya Suku Anak-Dalam.
Tentang Suku Anak-Dalam ini (Orang Rimba) Ruliyanto, wartawan Tempo (Tempo, April 2002:70) menulis bahwa : sejumlah artikel menyebut orang rimba merupakan kelompok melayu tua dari rumpun Melanesia. Mereka disamakan dengan kelompok melayu tua lainnya di Indonesia seperti orang Dayak, Sakai, Mentawai, Nias, Toraja, Sasak, Papua, dan Batak pedalaman. Kelompok melayu tua merupakan eksodus gelombang pertama dari Yunan (dekat lembah sungai Yang Tze di Cina Selatan) yang masuk ke Indonesia Selatan tahun 2000 sebelum masehi. Mereka kemudian tersingkir dan lari ke hutan ketika kelompok Melayu Muda datang dengan mengusung peradaban yang lebih tinggi antara tahun 2000 dan 3000 sebelum masehi.
Menurut Van Dongen (1906) dalam Tempo (2002:71) menyebutkan bahwa Orang Rimba sebagai orang primitif yang taraf kemampuannya masih sangat rendah dan tak beragama. Dalam hubungannya dengan dunia luar kota Orang Rimba mempraktekan silent trade mereka melakukan transaksi dengan bersembunyi di dalam hutan dan melakukan barter, mereka meletakkannya di pinggir hutan, kemudian orang melayu akan mengambil dan menukarnya. Gongongan anjing merupakan tanda barang telah ditukar.
Senada dengan itu Bernard Hagen (1908) dalam Tempo (2002:71) (die orang kubu auf Sumatera) menyatakan Orang Rimba sebagai orang pra melayu yang merupakan penduduk asli Sumatera demikian pula Paul Bescrta mengatakan bahwa orang Rimba semua dengan proto melayu (melayu tua) yang ada di Semenanjung Melayu yang terdesak oleh kedatangan melayu muda.
Daftar Pustaka :
Depsos RI. 1990, Data dan Informasi Pemberdayaan Masyarakat Terasing. Jakarta
________. 1998, Masyarakat Terasing Suku Anak Dalam dan Dusun Solea Dan Melinani, Direktorat Bina Masyarakat Terasing, Jakarta.
Dongen, C.J. Van. Tanpa Tahun, Orang Kubu (Suku Kubu), Arsip Museum Provinsi Jambi, Jambi.
Manurung, Butet. 2007, Sokola Rimba, Insist Press, Yogyakarta
Muchlas, Munawir. 1975, Sedikit Tentang Kehidupan Suku Anak Dalam ( Orang Kubu) di Provinsi Jambi, Kanwil Depsos Provinsi Jambi, Jambi
Ruliyanto, Agung. 2002, Majalah Tempo 18 April 2002, Jakarta
Soetomo, Muntholib, 1995, Orang Rimbo : Kajian Struktural-Fungsional Masyarakat Terasing Di Makekal Provinsi Jambi, Universitas Padjajaran, Bandung.

pojok pujakusuma medan

1. Asal Usul Medan
Orang pertama yang membuka Kampung Medan adalah Guru Patimpus , sekitar tahun 1590an. Guru Patimpus, suku Karo beragama Islam beberapa buku menyebutkan Guru Patimpus belajar agama Islam pada Imam Shaddik bin Abdullah, pada masa 1550/1643.. Sejarah mencatat agama Islam masuk ke Sumatera Timur dalam semester kedua dari abad ke 16.
Perkampungan yang dibuka oleh Guru Patimpus, posisinya terletak pada pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura (disekitar kawasan jalan Putri Hijau sekarang), yang diberi nama Medan Putri. Karena kawasan tersebut merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang cukup ramai, maka Medan Putri yang merupakan cikal bakal kota Medan, dengan cepat berkembang menjadi pelabuhan transit yang sangat penting.
Menurut Buku “Riwayat Hamparan Perak” karangan Tengku Lukman Sinar, SH terbitan tahun 1971, Guru Patimpus merupakan nenek moyang dari Datuk Hamparan Perak (Dua Belas Kota) dan Datuk Sukapiring, yaitu dua dari empat kepala suku Kesultanan Deli.
Dua dasa warsa setelah berdirinya kampung Medan, Sultan Iskandar Muda yang berkuasa di Aceh mengirimkan panglimanya yang bernama Gocah Pahlawan untuk menjadi pemimpin yang mewakili kerajaan Aceh di Tanah Deli. Gocah Pahlawan berhasil memperluas daerah kekuasaannya hingga meliputi daerah sekitar Kecamatan Percut Sei Tuan dan Kecamatan Deli Serdang sekarang ini. Ditambah lagi pada tahun 1632 Gocah pahlawan menikahi putri Datuk Sunggal. Setelah perkawinan ini, raja-raja di Kampung Medan menyerah pada Gocah Pahlawan.
1653 Gocah Pahlawan wafat dan digantikan oleh putranya Tuanku Panglima Perunggit, yang kemudian memproklamirkan kemerdekaan kemerdekaan Kesultanan Deli dari Kesultanan Aceh (1669), dengan ibukota di Labuhan (kira-kira 20 km dari kota Medan). Jhon Anderson seorang Inggris yang melakukan kunjungan ke Kampung Medan tahun 1823 dan mencatat dalam bukunya Mission to the East Coast of Sumatera bahwa penduduk Kampung Medan pada waktu itu masih berjumlah 200 orang tapi dia hanya melihat penduduk yang berdiam dipertemuan antara dua sungai tersebut.
2. Masa Kejayaan Tanah Deli
Tahun 1861, beberapa orang Fujian dari sebelah Utara China mendarat di Labuhan untuk mengadu nasib di Tanah Deli. Selanjutnya pada tahun 1863, Sultan Deli memberikan kepada Nienhuys Van der Falk dan Elliot dari Firma Van Keeuwen en Mainz & Co, tanah seluas 4.000 bahu (1 bahu = 0,74 ha) secara erfpacht 20 tahun di Tanjung Sepassi, dekat Labuhan. Contoh tembakau deli. Maret 1864, contoh hasil panen dikirim ke Rotterdam di Belanda, untuk diuji kualitasnya. Ternyata daun tembakau tersebut sangat baik dan berkualitas tinggi untuk pembungkus cerutu. Pesatnya perkembangan “Medan Putri” tidak lepas dari pengaruh perkebunan tembakau yang sangat terkenal dengan nama Tembakau Delinya tersebut.
Bersamaan dengan pesatnya pembukaan lahan baru untuk perkebunan tembakau. 1890-1920 adalah era dimana gelombang kuli untuk bekerja di perkebunan tembakau swasta milik Belanda datang secara besar-besaran. Para kuli yang disebut kuli kontrak adalah kebanyakan dari Jawa. Kebanyakan dari mereka tertipu oleh bujukan para agen pencari kerja yang mengatakan kepada mereka bahwa Deli adalah tempat dimana pohon yang berdaun uang (metafor dari tembakau). Dijanjikan akan kaya raya namun kenyataannya mereka dijadikan budak. Selama puluhan tahun mereka menjalani kehidupan yang sangat tidak manusiawi, upah yang sangat rendah, perlakuan kasar majikan.
Van den Brand adalah seorang advokat yang tinggal di Medan dan melihat secara langsung derita kuli-kuli kontrak di perkebunan tembakau di Deli, ia dengan penuh keberanian menentang sengit penale sanciate (aturan hukum bagi kuli-kuli yang bekerja di perkebunan) yang dibuat oleh pemerintahan kolonial Belanda di wilayah tersebut. Brosur Millioenen uit Deli (Berjuta-juta dari Deli) setebal 71 halaman diterbitkan pada tahun 1902 di Belanda. Brosur yang memprotes diberlakukannya penale sanciate dan juga mengurai derita dan skandal perbudakan yang dialami ribuan kuli kontrak asal Jawa yang berkerja di perkebunan tembakau milik swasta Belanda di Deli. Tulisan ini kontan menggegerkan dunia internasional. Pemerintah Belanda mendapat tekanan untuk membuktikan kebenaran tulisan itu. Karena jasa-jasanya surat kabar “Soeara Batak” yang terbit di Tapanuli menyebut Van den Brand sebagai “Bapak Kuli Kontrak”. Sayangnya nama Van den Brand tampaknya terlupakan oleh masyarakat Indonesia
3. Zaman Penjajahan Belanda
Walaupun Belanda memiliki beberapa perkebunan besar di Tanah deli, tetapi mereka belum sepenuhnya menguasai Deli. Pendudukan Belanda terhadap Tanah Deli, harus melalui perjuangan yang berat, kesempatan untuk menaklukkan Tanah Deli baru terbuka saat Sultan Ismail yang berkuasa di Riau, secara tiba-tiba diserang oleh gerombolan Inggris yang dipimpin Adam Wilson. Merasa terdesak, Sultan Ismail meminta bantuan kepada Belanda. Pada tanggal 1 Februari 1858 Belanda mendesak Sultan Ismail untuk menandatangani perjanjian agar daerah taklukan Kerajaan Siak Indrapura yang meliputi Deli, Langkat, Serdang di Sumatera Timur masuk dalam kekuasaan Belanda.
Pada tahun yang sama 1858, Elisa Netscher diangkat menjadi Residen Wilayah Riau dan sejak itu pula ia mengangkat dirinya menjadi pembela Sultan Ismail, tujuannya tentu dengan duduknya dia sebagai pembela Sultan secara politis akan mudah bagi Netscher untuk menguasai daerah taklukan kerajaan Siak yakni Deli yang didalamnya termasuk Kampung Medan Putri.
Perkembangan pesat Medan Putri sebagai pusat perdagangan mendorongnya menjadi pusat pemerintahan. 1879, Ibukota Residen Deli dipindahkan dari Labuhan ke Medan. 1Maret 1887, Ibukota Residen Deli Deli dipindahkan dari Labuhan ke Medan. Istana Kesultanan Deli yang berada di kampung Bahari (Labuhan) juga pndah ke Medan dengan selesainya pembangunan Istana Maimoon pada 18 Mei 1891. Dengan demikian Ibukota Deli telah resmi pindah ke Medan.
Tjong A Fie, salah satu pendiri Kota Medan , datang dari Canton di 1875, mengadu peruntungannya di Tanah Deli bersama abangnya Tjong Yong Hian. Dia membangun hubungan baik dengan Sultan Deli dan kaum Belanda pemilik perkebunan, sehingga kemudia dia ditunjuk sebagai “Majoor der Chineezen” atau Pemimpin komunitas China. Rumah Tjong A Fie di Kesawan rampung sekitar tahun 1900an, sebuah bangunan dengan perpaduan arsitektur, China-Eropa dan Art Deco. Tahun 1913 dia menyumbangkan jam kota untuk gedung Balai Kota.
Pada tahun 1915 Residensi Sumatera Timur ditingkatkan kedudukannya menjadi Gubernemen. Pada tahun 1918 Kota Medan resmi menjadi Gemeente (Kota Praja) dengan Walikota Baron Daniel Mac Kay. Berdasarkan “Acte van Schenking” (Akte Hibah) Nomor 97 Notaris J.M. de-Hondt Junior, tanggal 30 Nopember 1918, Sultan Deli menyerahkan tanah kota Medan kepada Gemeente Medan, sehingga resmi menjadi wilayah di bawah kekuasaan langsung Hindia Belanda. Pada masa awal Kotapraja ini, Medan masih terdiri dari 4 kampung, yaitu Kampung Kesawan, Kampung Sungai Rengas, Kampung Petisah Hulu dan Kampung Petisah Hilir.
Sejak itu Kota Medan berkembang semakin pesat. Berbagai fasilitas dibangun. Beberapa diantaranya adalah Kantor Stasiun Percobaan AVROS di Kampung Baru (1919), sekarang RISPA, hubungan Kereta Api Pangkalan Brandan - Besitang (1919), Konsulat Amerika (1919), Sekolah Guru Indonesia di Jl. H.M. Yamin sekarang (1923), Mingguan Soematra (1924), Perkumpulan Renang Medan (1924), Pusat Pasar, R.S. Elizabeth, Klinik Sakit Mata dan Lapangan Olah Raga Kebun Bunga (1929).
Pada tahun 1918 penduduk Medan tercatat sebanyak 43.826 jiwa yang terdiri dari Eropa 409 orang, Indonesia 35.009 orang, Cina 8.269 orang dan Timur Asing lainnya 139 orang. Secara umum, morphologi kota Medan pada saat itu dapat dibagi menjadi tiga bagian : Distrik Colonial yang terdiri dari bangunan-bangunan penting dan infrastruktur seperti Area Bisnis di daerah Kesawan, Area militer di sekitar sungai Deli dan sungai Babura, Pemukiman elit di Polonia, Pusat Pasar, Gereja. Rumah sakit, Sekolah, Stasiun Kereta Api dan Bandar Udara. Area Etnis China yang berlokasi di sebelah timur sungai Deli, berpotongan dengan Area kolonial Belanda di Kesawan. Area Pribumi, yang berpusat di Istana Kesultanan dan Mesjid di sebelah selatan kota setelah distrik Kesawan dan Area etnis China.
4. Zaman Pendudukan Jepang
Keadaan berubah ketika pendudukan Belanda mulai berakhir sekitar tahun 1942, saat pasukan Jepang mengambil alih kekuasaan. Dengan masuknya Jepang di Kota Medan keadaan segera berubah terutama pemerintahan sipilnya yang zaman Belanda disebut “Gemeente Bestuur” oleh Jepang dirobah menjadi “Medan Sico” (Pemerintahan Kotapraja). Yang menjabat pemerintahan sipil di tingkat Kotapraja Kota Medan ketika itu hingga berakhirnya kekuasaan Jepang bernama Hoyasakhi. Untuk tingkat keresidenan di Sumatera Timur karena masyarakatnya heterogen disebut Syucokan yang ketika itu dijabat oleh T.Nakashima, pembantu Residen disebut dengan Gunseibu.
Semboyan saudara Tua hanyalah semboyan saja, kenyataannya rakyat sangat menderita dengan diberlakukannya pertanian kolektif dan kerja paksa.Para Pemuda direkrut untuk bergabung dalam organisasi bentukan Jepang seperti Heiho, Romusha, Gyu Gun dan Talapeta.
5. Mempertahankan Kemerdekaan
Ketika Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945, beritanya sampai ke Medan walaupun agak tersendat-sendat karena keterbatasan sarana komunikasi. Dan Medan mulai berusaha membangun daerahnya. Namun 1 September 1945 sekelompok kecil tentara sekutu yang dipimpin Let I Pelaut Brondgeest tiba di Medan dan berkantor di Hotel De Boer (sekaang hotel Dharma Deli). Tugasnya adalah mempersiapkan pengambilalihan kekuasaan dari Jepang. Pada ketika itu pula tentara Belanda yang dipimpin oleh Westerling didampingi perwira penghubung sekutu bernama Mayor Yacobs dan Letnan Brondgeest berhasil membentuk kepolisian Belanda untuk kawasan Sumatera Timur yang anggotanya diambil dari eks KNIL dan Polisi Jepang yang pro Belanda.
Tentu saja niat mereka ditentang oleh para pemuda. Kemerdekaan adalah harga mutlak yang tidak bisa ditawar lagi, pertempuran demi pertempuran mempertahankan kemerdekaan pun terjadi, salah satu nya adalah Pertempuran Medan Area. Bahkan Medan sempat menjadi ibukota sementara negara Indonesia yang baru merdeka.
6. Pertumbuhan Medan
Medan terus berbenah, pembangunan fisik terus berlangsung hingga kini. Pertumbuhan yang pesat mendorong Medan berkembang menjadi ibukota Provinsi Sumatera Utara .